Renungan Tentang Nikmat Paling Dasar yang Sering Terlupakan
Pernahkah pagi ini, sebelum kau membuka mata dan mengeluh tentang pekerjaan yang menumpuk, kau menyadari bahwa kau masih bisa bernapas?
Bukan bernapas dalam arti sekadar hidup. Tapi bernapas sebagai sebuah anugerah. Tarikan dan hembusan yang terjadi otomatis sepanjang malam saat kau tidur, tanpa kau minta, tanpa kau kendalikan, tanpa kau hitung berapa ribu kali ia terjadi.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang penuh tekanan, kita sering lupa. Lupa bahwa sebelum kita memikirkan apa yang belum kita miliki, sebenarnya ada jutaan hal yang sudah diam-diam menjaga kita tetap utuh.
"Dan Jika Kamu Menghitung-Hitung Nikmat Allah..."
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)."
(QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini bukan sekadar informasi. Ini adalah teguran lembut dari Sang Pencipta. Bayangkan, Allah menggunakan kata "niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya" — ini berarti nikmat Allah itu infinite, tak terbatas, tak terjangkau oleh kemampuan matematika manusia.
Namun ironisnya, kita sering hanya fokus pada satu nikmat yang belum kita dapatkan, seraya melupakan ribuan nikmat yang sudah ada di depan mata.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin pernah berkata:
"Barangsiapa yang tidak dapat melihat nikmat Allah dalam makanan dan minuman yang dia konsumsi setiap hari, maka bagaimana mungkin dia dapat melihat nikmat Allah dalam hal-hal yang lebih halus darinya?"
Sebuah pertanyaan yang menghentakkan. Jika kita buta terhadap air putih yang jernih, bagaimana kita bisa melihat kasih sayang Allah yang lebih besar?

Napas: Pinjaman Mahal yang Gratis

Coba tahan napasmu sekarang. Rasakan. Dalam satu menit saja, dadamu akan sesak. Tubuhmu akan panik. Dalam tiga menit, mungkin kau akan pingsan.
Tapi lihatlah bagaimana Allah dengan rahmat-Nya menjadikan proses bernapas sebagai sesuatu yang otomatis, gratis, dan tersedia 24 jam sehari. Dia tidak mengirimkan tagihan untuk oksigen yang kau hirup. Dia tidak memungut biaya untuk detak jantung yang teratur.
Ayat ini diulang sebanyak 31 kali dalam surat Ar-Rahman. Seakan Allah terus-menerus mengingatkan: "Nikmat mana lagi yang kau ingkari? Udara ini? Air ini? Matahari ini? Atau tubuh sehat yang membuatmu bisa beraktivitas?"
Syaikh As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pengulangan ini bertujuan untuk membangkitkan rasa syukur dan mencegah manusia dari sifat kufur nikmat. Karena jika direnungkan, setiap hembusan napas seharusnya melahirkan rasa syukur baru.
Kisah Para Ulama Tentang Rasa Syukur
Diriwayatkan bahwa Imam Syafi'i rahimahullah pernah ditanya tentang bagaimana cara bersyukur. Beliau menjawab dengan sederhana:
"Syukur adalah bahwa nikmat itu kau gunakan untuk taat kepada-Nya, bukan untuk maksiat. Bahwa kau ingat Pemberi nikmat, bukan hanya nikmatnya saja."
Ada juga kisah indah dari seorang ulama sufi. Suatu malam beliau menangis tersedu-sedu. Muridnya bertanya, "Wahai guruku, apakah engkau menangisi dosa-dosamu?" Beliau menjawab, "Tidak. Aku menangisi ibadahku. Karena aku menyadari, Allah memberi nikmat tak terhingga padaku, namun ibadahku masih begitu sedikit."
Renungan ini mengajarkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan "Alhamdulillah". Syukur adalah kesadaran penuh bahwa apapun yang kita miliki saat ini — udara, air, iman, kesehatan — semuanya adalah titipan.
Sebelum Kau Mengeluh Pagi Ini
Mungkin hari ini kau merasa gagal. Mungkin target karirmu belum tercapai. Mungkin hatimu patah karena kenyataan yang tidak sesuai harapan. Mungkin kau sedang berjuang melawan rasa lelah yang tak terkatakan.
Itu semua valid. Manusia memang tempatnya lupa dan lemah.
Tapi sebelum kau larut dalam keluhan, cobalah jeda sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Rasakan udara itu masuk. Rasakan dadamu mengembang. Rasakan hidup yang masih berpulsa.
Itu artinya Allah masih sayang. Itu artinya masih ada kesempatan. Itu artinya perjuanganmu belum selesai.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim)
Maka hari ini, jangan hitung apa yang kurang. Tapi hitunglah satu nikmat kecil yang paling sering kau lupakan.
Hitung napasmu. Syukuri detak jantungmu. Karena dengan itu, kau masih bisa berjuang.
Challenge untukmu:
Tulis di kolom komentar: Satu hal kecil yang hari ini kamu syukuri.
Bisa secangkir teh hangat, bisa sapaan selamat pagi dari ibumu, bisa juga napas yang masih teratur ini.
Karena dengan menyebutnya, kita melatih hati untuk tidak buta terhadap cinta-Nya.


0 Komentar